Jamaica Café Identik dengan Kultur Indonesia
JAKARTA – Jamaica Café (Anton, Michael Biyik, Hekko, Iko, Bayu, dan Jimmy Bronx) sungguh pantas bila disebut sebagai grup acapella satu-satunya di Indonesia. Mereka bernyanyi tanpa diiringi alat musik, atau terbilang cukup memakai penguasaan mulut. Oleh karena itu, wajarlah Jamaica Café mendapatkan penghargaan dari MURI (Museum Rekor Indonesia) yang berbareng dengan peluncuran album perdana bertajuk Musik Mulut, baru-baru ini. Dua hasil manis yang diraih sekaligus, bukan lantas berarti terwujud demikian mudah. Mereka harus melewati bagian proses pencarian jati diri selama 12 tahun.
Segalanya itu dimulai dari acara internal sekolah, kampus, pesta kantoran swasta dan BUMN, mengisi berbagai program televisi, hingga kolaborasi dengan sejumlah pencipta lagu,
penyanyi senior dan kalangan aranjer. Terakhir kalinya, Jamaica Café sempat terlibat dengan album kompilasi Erwin Gutawa – Salute to Koes Bersaudara Plus, ketika mereka bernyanyi ”Nusantara II” dengan masukan bunyian alat musik tradisional.
Di bagian lain, potret keberhasilan Jamaica Café banyak ditentukan dari tempaan para seniman senior seperti Sudjiwo Tedjo, Rudi Wowor, dan Annette Frambach. Mereka sengaja tidak mau terpaku pada aliran musik tertentu. Namun, bisa disebut, pilihan Jamaica Cafe adalah pop acapella tanpa instrumen musik sama sekali.
Di samping berpadanan pop, enam jagoan vokal ini juga memasukkan unsur musik samba, bossa nova, reggae sampai dangdut. Semuanya itu selalu dikemas dalam format acapella. Berbicara ihwal dangdut, pada album perdananya itu mereka menyisipkan ”Terajana”, yang dianggap mewakili legenda dangdut Rhoma Irama.
Tiada dipungkiri, betapa sulit pengerjaan ”Terajana” dengan imbuhan tabla, gendang dan sitar. Lagi pula tugas vokalis utama Enrico Simangunsong (Iko) harus bisa menguasai teknik cengkokan. Ihwal akornya sendiri, memang tidak menjadi masalah buat Jamaica Café, berikut konsep bunyi yang Indonesia banget.
Ritme dan Melodi
Secara keseluruhan, Musik Mulut menghasilkan berbagai macam bunyi yang dihasilkan dari napas, perut, tenggorokan, resonansi rongga mulut, gigi dan gerak bibir yang membuat ritme dan melodi pada sepuluh lagu yang ada. Untuk itu, rasanya tidak muluk, kalau mereka mengharapkan kehadiran Musik Mulut dapat menularkan sensasi keindahan kepada banyak orang di mana-mana.
Secara spesial, lagu ”Hari Yang Indah” dikedepankan sebagai debut lagu unggulan, melalui eksplorasi bunyi dari idiom-idiom yang sudah intim dan dikenal publik. Lalu mereka menyederhanakannya jadi bagian lagu yang sedap didengar.
Lagu tersebut bercerita tentang bagaimana rasa cinta yang bisa membuat hari berubah indah, sekaligus mengajak orang untuk menghilangkan rasa sedih dan susah. Mereka membimbing orang-orang untuk menikmati hari dengan perasaan cerah ceria.
Format musik acapella memang datang dari kebudayaan luar, akan tetapi sebagai grup acapella yang Indonesia asli, Jamaica Café berusaha membuat album Musik Mulut menjadi persembahan yang identik dengan kultur Indonesia. Hal ini bisa disimak dari judul ”Enam” dengan aransemen yang sarat nuansa Indonesia Timur.
Di samping telah sanggup dominan berkarya lagu sendiri, mereka juga mendapatkan bantuan lagu dari Glenn Fredly. Setelah sempat beberapa kali berkolaborasi, Glenn ternyata tertarik untuk ikut serta menyumbangkan satu karyanya yang berjudul ”Untuk Dinda”.
Jamaica Café resmi memilih sikap profesional selaku grup acapella sejak tahun 1996. Seiring perjalanan waktu, jumlah personelnya mengalami banyak perubahan. Dari semula berjumlah 15-20 orang, delapan orang, lima orang, dan hingga kini terhitung enam orang yang tetap bertahan yakni Prihartono ”Anton” Mirzaputra, Michael ”Biyik” da Lopez, Jimmy ”Bronx” Ayal, Enrico ”Iko” Simangunsong, Hekko Wicaksono, dan Pambudi Bayuseno.
Tekad Jamaica Café secara tegas mengharapkan musik acapella jangan hanya dijadikan musik sisipan yang sekadar pengisi kekosongan pada sejumlah kegiatan acara penting.
Nb : kutipan dr harian umum sinar harapan
kale ini aku upload lagunya mereka yang judulnye "terajana" yah....
enjoy....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar